Maskapai penerbangan AS minta Departemen Keuangan batalkan hibah US$ 25 miliar

0
30

Reporter: Anggar Septiadi | Editor: Yudho Winarto

KONTAN. CO. ID – MASKAPAI -maskapai penerbangan besar di Amerika Serikat mendesak Departemen Keuangan dan sejumlah pemerintah federal membatalkan atau merevisi ketentuan sebagian dari hibah US$ 25 miliar yang ditujukan untuk menggaji para pegawai maskapai sebagai pinjaman.

Reuters, Minggu (12/4) melaporkan, asosiasi maskapai yaitu Airlines for America dalam diskusi bersama dengan Departemen Keuangan dan pemerintah federal menyatakan nilai US$ 25 miliar sejatinya masih sangat kurang untuk menutup kebutuhan gaji pegawai.

Baca Juga: JPMorgan naikkan standar pemberian KPR, mitigasi NPL di tengah pandemi Covid-19

Asosiasi menilai dana tersebut mestinya diberikan hanya dalam bentuk hibah, bukan kombinasi dengan pinjaman. Sementara beberapa maskapai penerbangan lain meminta agar dana hibah dapat dibayarkan secara langsung.

Jumat lalu, Menteri Keuangan Steven Mnuchin menyatakan 30% atau setara US$ 7, 5 miliar dari total dana diberikan dalam bentuk pinjaman berbiaya rendah selama sepuluh tahun, dengan bunga 5% pada lima tahun pertama pinjaman. Adapun kongres belum memberikan respon apa pun atas ketentuan yang disusun Departemen Keuangan.

Adapun dalam ketentuannya, maskapai penerima hibah dilarang untuk membehentikan pegawainya hingga September 2020 mendatang. Maskapai bisa kena sanksi jika ketentutan ini dilanggar.

Baca Juga: Empat negara ini larang penggunaan aplikasi Zoom, apa alasannya?

Presiden Serikat Asosiasi pegawai maskapai Sara Nelson Sabtu lalu mencuit jika US$ 7, 5 miliar diberikan dalam bentuk pinjaman, pemberhentian pekerja akan segera berlangsung dan memuncak pada Oktober 2020. “Ini jelas merupakan pencurian dana kongres yang mestinya diberikan kepada pekerja. ”

Akibat pandemi COVID-19, maskapai di AS sendiri telah mengandangkan lebih dari 2. 200 pesawat, ini lebih dari sepertiga armada maskapai AS.

Kemudian mereka juga telah membatalkan ratusan ribu penerbangan sembari berupaya mati-matian menopang neraca lantaran permintaan penerbangan yang anjlok sampai 95%.