Pemasaran listrik merosot, IESR: Persoalan PLN di tiga bulan ke depan adalah cashflow

0
398

Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari

LANGSUNG. CO. ID –┬áJAKARTA . Pandemi virus corona menghantam perekonomian di negeri. Hal itu membuat konsumsi energi, khususnya listrik pun turun di segmen bisnis dan industri. Akibatnya, penjualan listrik PT PLN (Persero) ikut anjlok.

Berdasarkan hitungan Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa, sejak pekan kedua bulan Maret, beban puncak dalam Sistem Jawa-Bali sudah merosot kira-kira 2-3 Gigawatt (GW).

Sebenarnya masih terlalu dini untuk menilai perlambatan penjualan listrik PLN. Sebab, dampak dari Pembatasan Baik Berskala Besar (PSBB) terhadap konsumsi listrik baru bisa tergambar di bulan April atau Mei mendatang.

Mengaji Juga: Konsumsi listrik anjlok imbas corona, Pengamat UI: PLN berpotensi rugi Rp 6, 3 triliun

“Saya kira untuk menilai tersedia penurunan atau perlambatan, kami harus lihat profil beban dan penjualan di Kuartal kedua, ” logat Fabby kepada Kontan. co. id, Rabu (15/4).

Tetapi di tengah kondisi pandemi semacam saat ini, hal tersebut bakal menggoncang kinerja keuangan PLN. Fabby menaksir, jika tren penurunan tanggung di sistem Jawa-Bali terus bersambung di kuartal kedua, maka PLN berpotensi kehilangan pendapatan sekitar Rp 3 triliun – Rp 3, 3 triliun per triwulan. Pokok, target penjualan listrik ditaksir cuma bisa menyentuh 95%-97% dari rancangan.

“Dasar perhitungannya merupakan target penjualan listrik PLN pada seluruh sistem sesuai RKAP (Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan) serta realisasinya, ” ungkap Fabby.