Bersekolah budaya Jawa dari penelusuran pada Gebyok Ikon Rumah Jawa

0
280

KONTAN. CO. ID kepala Bagi Anda yang sudah tinggal di Jawa Tengah dan Jawa Timur, mungkin tidak ganjil lagi dengan namanya gebyok.

Ya, gebyok merupakan satu diantara bagian dari rumah tradisional kebiasaan Jawa yang berfungsi sebagai partisi atau penyekat ruangan.

Gebyok berbentuk ukiran yang baik dari kayu jati, yang saat ini memiliki nilai seni yang lulus tinggi. Bahkan harga satu babak gebyok langka bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Namun di balik keindahan dan nilai seni yang luhur itu, gebyok memiliki sejarah panjang yang menceritakan perkembangan budaya Jawa pada zamanya. Lebih nelangsa teristimewa gebyok belum mendapatkan pengakuan sebagai salah satu warisan peninggalan budaya Indonesia.

Penelususan dan pengkajian tentang perkembangan gebyok dari bermacam-macam daerah di wilayah Pulau Jawa dan Madura inilah yang dikerjakan oleh tiga orang, yakni Triatmo Doriyanto, Eunike Prasasti dan Suhartono.

Mereka merangkai buatan penelusuran dan memngabadikanya dalam suatu buku bertajuk “Gebyok, Ikon Rumah Jawa ”.

Buku “Gebyok, Ikon Rumah Jawa” ini diluncurkan secara daring pada Sabtu 2 Mei 2020, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional.

Triatmo Doriyanto menjelaskan, momentum Hari Pendidikan Nasional ia pilih untuk menyapaikan buatan riset, gebyok sebagai sarana pengetahuan dan pendidikan bagi masyarakat penggemar seni dan gebyok agar peninggalan bangsa. Hasil riset, kajian, anjangsana dan observasi serta wawancara secara banyak nara sumber dengan referensi dan literatur yang cukup penuh, agar masyarakat peduli dan tetap menjaga, melestarikan, bahkan diperjuangkan biar tetap menjadi warisan budaya Nusantara.

Misi lain dalam penulisan buku ini juga biar gebyok dan Rumah Adat Suci (RAK) tidak hanya dilestarikan tetapi juga agar dapat dicatatkan jadi satu diantara warisan budaya asli Nusantara yang diakui sebagai warisan kebiasaan tak benda (WBTB) Indonesia oleh dunia. Sebab gebyok menunjukkan daerah keahlian pertukangan yang termasuk di dalamnya motif dan pola dengan dihasilkan.

Pada 2016, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah mencatata RAK sebagai WBTB Indonesia. Dalam pencatatan, RAK disebut sebagai warisan budaya yang memiliki pembawaan seni bangunan tradisional dengan bentuk/struktur/fungsi/ragam hias dan filosifi perpaduan kebiasaan pra Islam, China dan budaya Islam di Kudus.

Setahun kemudian atau 2017, RAK baru ditetapkan oleh Kemendikbud jadi WBTB Indonesia dalam domain kecakapan dan kemahiran kerajinan tradisional. Biar ditetapkan sebagai WBTB Indonesia, sayangnya bagian dalam RAK yang terdiri dari
gebyok atau partisi, yang menjadi satu kesatuan secara RAK, sama sekali tidak mengikuti disebutkan sebagai WBTB Indonesia dengan terpisah.

Penyebutan RAK berikut dengan bagian dan maknanya, tanpa menegasikan gebyok, tidak memberikan kekuatan yuridis dan pengakuan adat terhadap gebyok sebagai ikon serta penopang RAK itu sendiri.

Satu diantara implikasi tidak adanya pengakuan gebyok sebagai karya membuat dan WBTB Indonesia, menyebabkan gebyok seolah “tidak ada” pemiliknya jadi bisa bebas dan leluasa dibawa dan diperjual-belikan ke manapun. Meskipun secara ketentuan Undang-Undang Hak Membikin dan Cagar Budaya, kepemilikan gebyok harus dilindungi dan dikuasai sebab negara.

Hal tersebut tentu mengkhawatirkan banyak pihak sebab bisa menghilangkan pengakuan secara kaidah dan nilai-nilai budaya serta susunan cipta gebyok itu sendiri sebagai karya bangsa. Akibatnya, bukan tidak mungkin, suatu saat gebyok pun bisa diakui oleh bangsa lain sebagai karya ciptanya. apalagi jika merasa memiliki akar budaya yang hampir sama.

“Harapan kami, gebyok sebagai Ikon sendi Jawa dapat dijadikan WBTB negeri oleh Unesco, seperti halnya RAK, yang baru sebatas WBTB Indonesia, ” tutur Triatmo Doriyanto.

Editor: Syamsul Azhar