Wabah corona mereda, polusi udara balik menyelimuti langit China

0
294

Sumber: Channelnewsasia. com | Editor: S. S. Kurniawan

LANGSUNG. CO. ID –┬áBEIJING. Pandemi virus corona baru telah membersihkan kabut asap dari udara China selama berbulan-bulan. Tapi, pencemaran udara kembali ketika pabrik-pabrik bergegas meningkatkan produksi setelah terhenti semasa wabah.

Tingkat polutan beracun termasuk nitrogen dioksida dan partikel kecil yang populer jadi PM2. 5 tercatat lebih agung selama April dibanding periode serupa tahun lalu, mengacu data yang Greenpeace China rilis pada Jumat (8/5).

“Yang memikat adalah, seberapa cepat emisi telah pulih kembali setelah penurunan intelek terlihat dalam tiga bulan pertama tahun ini, ” Li Shuo, pakar iklim dan energi Greenpeace China, kepada AFP seperti dilansir Channelnewsasia. com.

Baca Serupa: Gara-gara virus corona, NASA: Polusi di China turun drastis

“Ini mungkin merupakan tanda awal kalau tren positif yang terlihat semasa periode epidemi mungkin cepat arah, ” ujar dia.

Tingkat PM2. 5 di segenap China turun lebih dari 18% mulai 20 Januari hingga 4 April di tengah penguncian penuh kota dan pembatasan perjalanan dengan ketat, menurut Kementerian Lingkungan Hidup Tiongkok.

Gambar planet yang NASA dan Badan Antariksa Eropa rilis sebelumnya menunjukkan, emisi nitrogen dioksida di kota-kota luhur China Tengah dan Timur, wadah sebagian besar pabrik kimia, baja, dan semen berada, turun 30% dalam dua bulan pertama tahun ini.

Tetapi, tingkat partikel PM2. 5 dalam satu meter kubik udara pada April tahun ini berada di level 33, 93, sedikit meningkat lantaran 33, 2 pada periode yang serupa tahun lalu.

Baca Juga: Presiden Xi: Pengendalian corona di China masih hadapi ketidakpastian tumbuh

Tingkat nitrogen dioksida dalam meter kubik hawa pada April tahun ini ada di level 25, 4 dibandingkan dengan 24, 6 pada bulan yang sama tahun lalu.

Kedua polutan tersebut merupakan produk sampingan beracun dari pembakaran batubara, minyak, dan gas dengan bisa menyebabkan asma, penyakit dalaman, bahkan melemahkan sistem kekebalan awak, membuat orang lebih rentan tertular penyakit lain.