Pandangan Kementerian ESDM dan AP3I terpaut rencana pembuangan limbah tailing ke laut

0
47

Reporter: Filemon Agung | Editor: Handoyo.

KONTAN. CO. ID – JAKARTA . Pemerintah tengah berencana melaksanakan proyek pembuangan limbah tailing ke laut dalam atau Deep Sea Tailing Placement (DSTP) yang berada di kawasan industri nikel di Sulawesi Tengah dan Maluku Utara. Sekadar informasi, tailing merupakan sisa hasil proses pengolahan material batuan yang mengandung logam & nikel.

Direktur Teknik Lingkungan Mineral dan Batubara Departemen ESDM Lana Saria mengatakan, pengelolaan tailing diatur dalam Peraturan Negeri No. 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya & Beracun (B3). Dalam beleid itu, tailing dapat ditempatkan di bahar dengan metode sub marine tailing placement.

Tentunya pada masa akan ditempatkan di laut, tailing tersebut harus sudah melalui tes toksisitas. “Artinya tailing yang akan ditempatkan tidak boleh mengandung toksisitas melebihi dari standar yang diperbolehkan, ” ungkap dia, Jumat (4/9).

Dia melanjutkan, limbah tailing juga harus dipastikan dibuang di area yang sudah tak ada lagi flora-fauna laut dengan hidup serta sudah tidak ada cahaya matahari. Hal ini istimewa diperhatikan lantaran limbah tersebut sangat berbahaya bagi lingkungan laut. “Harus dipastikan seperti itu supaya kesibukan pembuangan tailing tidak memberi dampak terhadap biota laut, ” imbuh Lana.

Baca Juga: Lelang migas ditiadakan, Pengamat ingatkan dampaknya terhadap penemuan cadangan baru

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Industri Pengerjaan dan Pemurnian Indonesia (AP3I) Prihadi Santoso menyebut, pembuangan limbah tailing ke laut sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Di dunia ini sudah terdapat delapan lokasi pengucilan limbah tailing, contohnya di Norwegia dan Papua Nugini.

“Itu baru tailing nikel, mineral lainnya pun juga ada tempat pembuangan tailing-nya di dasar laut, ” katanya kepada Kontan, hari ini.

Menurutnya, sah-sah saja apabila pemerintah berencana membina tempat pembuangan limbah tailing di laut melalui proses DTSP. Cuma memang, untuk merealisasikan hal itu tidaklah mudah karena butuh uraian yang matang dan memakan periode lama sekitar 3 sampai 4 tahun.

Prihadi serupa menilai, pada umumnya limbah tailing khususnya nikel tidak bisa selamanya dipandang negatif. Pasalnya, di negara-negara lulus limbah tersebut dapat diolah menjelma berbagai produk, misalnya bahan patokan pembuatan jalan. Bahkan, limbah itu juga bisa dimanfaatkan sebagai komoditas ekspor.

“Sejauh itu, limbah nikel di Indonesia cuma sekadar dipandang sebagai limbah B3 saja. Padahal, ada potensi besar yang bisa dimanfaatkan, apalagi Indonesia pemilik cadangan nikel terbesar dunia, ” pungkas dia.

INFAK, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah temperamen kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Jadi ungkapan terimakasih atas perhatian Kamu, tersedia voucer gratis senilai pemberian yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.