Indonesia sudah resesi sejak kuartal I 2020

0
15

Reporter: Djumyati Partawidjaja | Editor: Djumyati P.

KONTAN. CO. ID kacau JAKARTA. Ada banyak karakter yang panik melihat Indonesia menyelap dalam resesi. Tapi akan menjelma seperti apa sebenarnya kondisi perekonomian kita di tahun 2020 ini? Apakah pertumbuhan ekonomi akan mampu segera pulih di awal tarikh 2021?

Berikut tersebut wawancara khusus KONTAN denagan Adrian Panggabean Chief Economist Bank CIMB Niaga Tbk tentang kondisi ekonomi makro final, pandemik covid-19 omnibus law membangun kerja, perekonomian global dan pengaruhnya terhadap perkonomian Indonesia.

Bagaimana Anda melihat perkembangan ekonomi di Nusantara setelah di kuartal 3 ini?

Di kuartal ke-3 kalau melihat dari data-data tradisional dan data-data non tradisional, data-data non tradisional yang kami maksud itu adalah retail sales , terus kemudian penjualan mobil, penjualan motor & juga berbagai indikator lainnya.

Lalu kalau non tradisional misalnya Google Foot Mobility Index lalu observasi secara lapangan penelitian jumlah crane di beberapa kota.

Lalu kemudian melihat daripada statistik penerbangan, volume penjualan dalam SPBU, penumpang kereta api & lain sebagainya. Kuartal ke-3 tersebut memang lebih membaik dibandingkan kuartal 2, tapi tetap masih jauh dibanding kuartal 1. Artinya, perekonomian di kuartal 3 itu masih cukup dalam kontraksinya, walau tidak sedalam di kuartal 2.

Kalau berdasarkan semua masukan itu daya hitung, dengan korelasi-korelasi tertentu dengan teknik national income accounting yang biasa dilakukan, saya bertemu angka pertumbuhan di kuartal 3 itu -3, 3% YoY. Jadi pertumbuhan ekonomi -5, 3% di kuartal 2 dan 2, 97% di kuartal 1, kuartal 3 ini memang sudah improve dibandingkan kuartal 2.

Nah dengan adanya disbursement program PEN di bulan September terkait dengan berbagai macam aktivitas di funding market, saya berputar, saya melihat di kuartal 4 itu pertumbuhan ekonomi masih minus sekitar 2%. Funding market tersebut pasar pembiayaan ya, baik pada obligasi, pasar saham maupun dalam perbankan yaitu loan growth maupun deposit growth, maupun keseimbangan pada antara itu semua. Jadi overall di tahun 2020 pertumbuhan ekonominya antara -1, 9% ke -2, 1%.

Yang ke-2, kalau saya lihat dari leading economic indicator yang ada, dalam enam bulan ke depan sejak angka terakhir yaitu Agustus, pertumbuhan terakhir itu akan berada di lembah tren growth kita.

Nah kalau itu saya translate ke dalam angka, kemungkinan besar di kuartal pertama di 2021 itu kemajuan secara YoY itu sudah meyakinkan. Tetapi kalau misalnya saya terjemahkan angka itu menjadi quarter on quarter seasonally adjusted kuartal 1 2021 masih negatif angkanya. Yang berarti kita berada di dalam zona resesi akan sampai kuartal 1 2021.

Formulasi standard serta baku yang saya pergunakan sesuai ini sebetulnya memperlihatkan bahwa kita sebenarnya sudah mengalami pertumbuhan negatif secara quarter on quarter seasonally adjusted sejak kuartal ke 4 2019.

Jadi saat kuartal 1 2020, saat kita mendapatkan pertumbuhan ekonomi 2, 97% YoY itu secara quarter on quarter seasonally adjusted sudah negatif.

Bagaimana sebenarnya kita menentukan kondisi perekonomian di resesi?

Jika kita mau mendefinisikan sebuah kawasan itu resesi atau depresi, ataupun recovery, atau boom itu kan sebetulnya kita mau melihat bentuk dari business cycle.

Itu kan kalau perekonomian medium turun namanya resesi, kalau dalam bawah namanya depresi, kalau perekonomian naik ke atas namanya recovery , sedangkan pada waktu perekonomian di atas namanya boom . Serta itu kan bentuknya seperti kurva sinus.

Nah, business cycle ini kan adalah suatu vokabuler yang kerap dipakai di usaha terutama di sektor industri keuangan untuk menentukan fluktuasi dari perekonomian. Sekarang untuk menentukan dia sedangkan naik atau turun, kita harus melihat tren strukturalnya. Pada masa kita mau melihat tren struktural, kita harus membuang elemen-elemen dengan sifatnya musiman atau seasonal dan bagian yang acak.

Jadi sebuah data pertumbuhan ekonomi berisi dari 3 komponen. Komponen struktural, komponen musiman, dan komponen sewenang-wenang. Komponen musiman itu misalnya musim Imlek, musim sekolah, musim libur, musim haji, musim Natal, musim panen, musim hujan. Musim-musim itu bisa menambah atau mengurangi struktur besarnya. Sementara untuk komponen sebarang misalnya tiba-tiba ada kerusuhan sesuai demo omnibus law yang membina kerugian karena kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan. Ada juga faktor acak yang menambah seperti Asian Games, itu kan sekali 5 tahun serta kebetulan Indonesia dapat jadi tuan rumah.

Kalau kita ingin melihat tren yang benar, kita harus membuang faktor musiman dan faktor acaknya itu. Buat melihat struktur perekonomian kita tersebut seperti apa gerakannya, sehingga sungguh-sungguh ditentukan oleh produksi dan penggunaan dan keterkaitan keduanya.

Jadi kalau kita mengacu ke definisi dengan baku, kita sebetulnya sudah berada dalam zona resesi di kuartal 1 2020

Nah jadi busines cycle tersebut harus dilihat semacam itu, menghilangkan ciri musiman dan acak. Ada cara yang namanya seasonal adjustment . Dalam kuliah statistik sih itu dipelajari. Lalu kemudian kita melihat output sebuah kuartal dengan kuartal sebelumnya. Periode sebelumnya ya, bukan periode yang persis di tahun sebelumnya. Jadi Q2 dibandingkan Q1, Q3 dibandingkan Q2, Q4 dibandingkan Q3 bukan Q3 2020 dibandingkan Q3 2019.

Kita hanya boleh mengumpamakan kuartal ke kuartal kalau faktor musiman dan acaknya sudah dibuang. Jadi kita membandingkan data struktural dengan data struktural. Itu merupakan terminologi dan konsep baku di menghitung business cycle yang di dalamnya konsep resesi.

Jika memakai perhitungan seperti itu Indonesia sebenarnya sudah mengalami pertumbuhan -0, 52% di kuartal 4 2019, kita mengalami lagi pertumbuhan negatif di kuartal 1 2020 masa kita masih positif YoY.

Sehingga kalau dua kala berturut-turut negatif quarter on quarter seasonally adjusted, maka diklaim jadi resesi. Jadi kalau kita mengacu ke definisi yang baku, kita sebetulnya sudah berada dalam kawasan resesi di kuartal 1 2020. Kuartal 2 2020 itu kita yang kedua kalinya mengalami pertumbuhan negatif. Kalau di kuartal 3 negatif lagi berarti itu kuartal yang ke 4 berturut-turut.

Saya menduga kita mau mengalami pertumbuhan negatif juga di kuartal 4 2020 dan kuartal 1 2021 dengan perhitungan quarter on quarter seasonally adjusted . Dan dugaan tersebut saya ambil dari leading indicator dengan saya lihat.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda bakal menambah semangat kami untuk menghadirkan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih berasaskan perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa dimanfaatkan berbelanja di KONTAN Store.