Tarikh ini, permintaan kopi robusta diperkirakan masih stabil

0
381

KONTAN. CO. ID – JAKARTA . Endemi Covid-19 berdampak pada sektor pabrik makanan dan minuman (mamin) maupun perkebunan, termasuk kopi. Di sedang tekanan tersebut, kopi jenis robusta diperkirakan menjadi jenis kopi secara permintaan yang lebih baik dibanding jenis-jenis kopi lainnya.

Sedikit informasi, robusta merupakan macam kopi yang mampu tumbuh pada dataran rendah dengan ketinggian pada bawah 1. 000 meter dalam atas permukaan laut. Jenis contoh ini biasanya banyak diolah menjadi kopi instan kemasan oleh pabrik manufaktur, beda dengan kopi jenis arabika yang lebih banyak digunakan untuk dikonsumsi langsung di hotel, restoran, dan kafe (horeka).

Ketua Kompartemen Kopi Spesialisasi Industri Asosiasi Eksportir dan Industri Jiplakan Indonesia (AEKI), Moelyono Soesilo memperkirakan, kopi robusta memiliki permintaan yang lebih stabil ketimbang kopi arabika pada tahun ini.

Taksiran Moelyono, permintaan kopi robusta di pasar dalam negeri hanya akan turun tipis dari sekitar 380 ribu ton di tahun 2020 menjadi sekitar 360 ribu ton di tahun 2021. Sementara itu, permintaan kopi jenis arabika diproyeksi mengalami penurunan yang bertambah dalam hingga hampir sekitar 40% dari semula berkisar 30 beribu-ribu ton menjadi 20 ribuan ton.

Menangkap Juga: Bisnis kedai kopi masih lesu, ini sebabnya

Dugaan Moelyono, kebijakan pembatasan operasional oleh negeri terhadap sektor horeka bakal menekan permintaan kopi arabika di daerah tersebut. Kontras dengan hal tersebut, permintaan kopi robusta diproyeksi lebih baik, sebab permintaan kopi instan kemasan dari pelanggan kopi rumahan diperkirakan masih baik di tengah pandemi Covid-19. “Permintaan kopi robusta masih stabil, ” kata Moelyono kepada Kontan. co. id, Jumat (22/1).

Pandangan sewarna juga diungkapkan oleh pihak Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi)/ Wakil Ketua Umum Tempat Kebijakan Publik Gapmmi, Rachmat Hidayat mengatakan, saat ini masyarakat dasar lebih banyak mengonsumsi minuman dalam rumah.

Kecenderungan tersebut juga dapat terlihat dari konsumsi produk-produk minuman lain seperti air susu kemasan 1 liter maupun produk-produk minuman konsumsi rumahan lainnya yang meningkat berdasarkan laporan sebab anggota Gapmmi. “Kalau dulu membangun orang duduk di kafe, duduk di kedai, mereka ngopi, Saat ini itu berkurang hingga mungkin 50% atau lebih, karena (sebagian) orang tidak bekerja di luar sekarang, ” terang Rachmat kepada Kontan. co. id (18/1).

Dalam tengah permintaan stabil, para pembuat kopi instan kemasan telah menyiapkan strateginya masing-masing untuk bersaing. Superior Public Relations Wings Group, Teuku Muhammad Farhan Dermawan mengatakan, Wings Group akan terus berupaya supaya performa kinerja brand-brand kopi kemasannya bisa terus tumbuh dengan bagus.

Editor: Handoyo.