WHO: Banyak negara di Asia Pasifik baru dapat vaksin pertengahan 2021

0
415

Sumber: Kompas. com | Editor: Wahyu T. Rahmawati

KONTAN. CO. ID kepala JAKARTA. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengucapkan negara-negara di kawasan Asia Pasifik tidak dijamin untuk mendapat akses vaksin Covid-19 lebih awal. WHO juga meminta pemerintah di kaum negara Asia Pasifik untuk bertambah mengadopsi pendekatan jangka panjang di menangani pandemi.

Di Jakarta, koordinator WHO untuk pengobatan esensial dan teknologi kesehatan, Socorro Escalante, mengatakan bahwa beberapa negara telah membuat perjanjian pembelian vaksin yang independen. Selain itu, era dia akan memulai kampanye vaksinasi dalam beberapa bulan mendatang, kira-kira negara lain baru akan memiliki vaksinasi pada pertengahan atau apalagi akhir 2021.

Di sisi lain, Indonesia telah menerima pengiriman pertama vaksin virus corona dari China. Pemerintah Indonesia juga merencanakan program vaksinasi massal yang juga dilaporkan akan diberikan secara gratis. “Penting untuk ditekankan sebagian besar, jika tidak seluruh, negara di kawasan Pasifik Barat adalah bagian dari Fasilitas COVAX, ” kata Escalante.

“Di dalam Fasilitas COVAX ana mengharapkan vaksin masuk pada kuartal kedua tahun 2021, ” tambah Escalante. COVAX didirikan oleh WHO, aliansi vaksin GAVI dan CEPI, sebuah koalisi global untuk menyerang epidemi, dalam upaya memastikan akses yang adil terhadap vaksin dalam seluruh dunia.

Baca Juga: Tambahan kasus corona di India melambat setelah sentuh 10 juta, sudah herd immunity?

Perwakilan WHO juga mendesak agar kelompok berisiko tinggi harus diprioritaskan untuk vaksinasi. Direktur regional WHO, Takeshi Kasai, mengatakan bahwa pengembangan vaksin yang aman & efektif adalah satu hal dengan penting.

Namun, memproduksinya dalam jumlah yang memadai serta menjangkau semua orang yang membutuhkan merupakan soal lain. Dia mengucapkan, saat negara-negara menunggu vaksin, mereka perlu melanjutkan pertukaran teknis mengenai masalah yang dialami.

Permasalahan tersebut seperti tes lab. dan manajemen klinis, komitmen buat mendukung akses yang menjangkau semua ke vaksin Covid-19, dan komitmen kuat dari semua pihak buat melindungi warga yang paling sensitif. “Negara-negara di kawasan ini sudah menghabiskan lebih dari satu dekade untuk mempersiapkan peristiwa dengan daya pandemi, dengan memperkuat sistem kesehatan mereka untuk mengantisipasi peristiwa semacam pandemi COVID-19, ” kata Dr Kasai.

“Negara-negara yang berhasil mengendalikan Covid-19 sudah memiliki rencana kesehatan masyarakat yang sangat kuat untuk menangani kasus-kasus meyakinkan, ” turut Kasai. Dia memasukkan, sebagian besar negara mampu memperbesar kapasitas intervensi kesehatan masyarakat yang tepat pada waktu yang langsung.

Baca Juga: Wanita hamil jangan disuntik vaksin Covid-19, itu penjelasannya

Hal itu untuk menghindari apa dengan disebut garis merah, di mana sistem kesehatan benar-benar kewalahan. “China menunjukkan sejak awal bahwa virus ini dapat ditekan, dengan serangkaian intervensi kesehatan masyarakat yang tepat, ” ujar Kasai.

“Pengalaman Australia dan Selandia Gres memperkuat hal ini. Sementara negeri2 lain bersiap untuk skenario terburuk, penularan komunitas yang meluas tidak bisa dihindari, ” imbuh Kasai.

“Dari Jepang, ana belajar manfaat menggunakan pendekatan berbasis kluster. Dan tentu saja, Jepang juga mengajari kami tentang 3 C yang terkenal, ” imbuh Kasai. Tiga C yang terkenal tersebut adalah menghindari ruang mati (closed spaces), tempat ramai (crowd places), & pengaturan kontak dekat (close-contact settings).

Kasai mengatakan, kawasan itu sudah terhindar dari dampak berskala gembung dari virus corona yang zaman ini bisa dilihat di bagian lain dunia. Namun, dia langgeng memperingatkan bahwa tidak ada zaman untuk berpuas diri.

Artikel ini telah tayang dalam Kompas. com dengan judul WHO: Banyak Negara di Asia-Pasifik Anyar Dapat Vaksin Pertengahan 2021.

Edito: Danur Lambang Pristiandaru

Baca Juga: Selama musim dingin, China akan melakukan vaksinasi bagi kelompok berisiko tinggi