Mau masuk ke saham perusahaan start up? Simak kata analis berikut

0
382

Reporter: Akhmad Suryahadi | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN. CO. ID porakporanda JAKARTA. Jenis perusahaan yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) semakin beragam, termasuk perusahaan rintisan atau start up. Terdapat sejumlah saham emiten start up yang bisa menjadi alternatif bagi investor, mulai dari PT NFC Indonesia Tbk (NFCX), PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS), PT Yelooo Integra Datanet Tbk (YELO), dan PT Distribusi Voucher Nusantara Tbk (DIVA).

Ada pula PT Telefast Indonesia Tbk (TFAS), PT Cashlez Worldwide Indonesia Tbk (CASH), hingga PT Tourindo Guide Indonesia Tbk (PGJO).

Meski demikian, saham-saham ini merupakan saham lapis bawah, yang pergerakannya kurang likuid dan memiliki kapitalisasi pasar yang kecil.

Ambil contoh saham KIOS, yang hari ini hanya diperdagangkan sebesar 6 kali dengan nilai Rp 1, 19 juta. Atau, saham YELO yang hanya diperdagangkan 44 kali dengan nilai Rp 12, 55 juta hari ini.

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menilai, untuk bagian perusahaan rintisan yang sudah listing namun memiliki likuiditas yang invalid, akan mengurangi minat pelaku rekan atau membuat pelaku pasar bakal sedikit berhati-hati terhadap saham itu.

Baca Juga: 17 Kongsi bersiap IPO tahun depan, siapa saja?

“Saham ini lebih ke ritel dengan tipenya spekulan, mungkin masih menjadikan, ” terang Sukarno kepada Kontan. co. id, Kamis (7/1).

Dengan kata lain, prawacana Sukarno, investor yang memiliki arah jangka panjang akan lebih memastikan saham-saham yang bersifat defensif, misalkan saham consumers good dan telekomunikasi, dengan memiliki kinerja dan track record yang lebih jelas.

Hal ini berkaca pada strategi ‘bakar uang’ di dunia startup dengan digunakan untuk bersaing dengan pemeran lainnya (peers), yang biasanya mau berdampak pada sisi bottomline serta akan berdampak pada kebijakan penggolongan dividen.

“Jadi untuk saat ini belum bisa dilihat akan seperti apa kinerjanya nanti, ” sambung dia.

Jika melihat iklim pasar modal dan ekonomi, kata Sukarno, saat ini merupakan waktu yang lulus tepat bagi perusahaan startup e-commerce untuk melantai.

Sementara itu, Analis Phillip Sekuritas Nusantara Anugerah Zamzami Nasr menilai, urusan likuid atau tidaknya saham kongsi rintisan setelah melantai di pura bisa saja disebabkan oleh faktor reputasi dan juga ukuran sejak startup yang bersangkutan.

”Bisa jadi karena reputasi start-up-nya yang kurang terdengar. Atau investor banyak yang tidak familiar secara bisnis mereka. Mungkin kalau unicorns yang listing bisa lain cerita, ” ujar Zamzami kepada Kontan. co. id, Kamis (7/1).

Meskipun kebanyakan start-up mempunyai strategi bakar uang untuk beriring-iring dengan kompetitor, namun jika kongsi tersebut mengarah ke profitability dengan jelas, maka bisa menumbuhkan keyakinan investor untuk berinvestasi ke bagian tersebut.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami buat menyajikan artikel-artikel yang berkualitas serta bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.